
PILARPOS.INFO | Surabaya – Kang Santri salah satu murid Mbah Kyai Bashiroh Ibnullah mengkaji kedalaman sunyi yang jarang disentuh oleh pikiran yang riuh, manusia sering berdiri di persimpangan antara percaya dan mengenal. Ia mengaku yaqin meyakini sesuatu yang dianggap agung, tinggi, dan suci namun jarang sekali ia berhenti sejenak untuk bertanya: “Apakah yang kupercaya ini sungguh lebih sejati dari Dia yang menanamkan rasa percaya itu dalam diriku?”
Betapa aneh perjalanan jiwa manusia. Ia sanggup menempuh jarak jauh, menengadah ke langit, mencari tanda-tanda kebesaran di luar dirinya. Ia menyusun kata-kata pujian, merangkai doa, mengagungkan yang tak terlihat. Namun di saat yang sama, ia lupa bahwa medan paling luas bukanlah langit yang membentang, melainkan dirinya sendiri ruang batin yang tak pernah benar-benar ia jelajahi.
Mengapa keyakinan sering diarahkan keluar, seakan-akan kebenaran itu berada jauh di luar jangkauan diri? Padahal, bukankah rasa yakin itu sendiri bersemayam di dalam dada? Bukankah getar iman pertama kali muncul bukan dari luar, melainkan dari kedalaman rasa yang tak kasat mata?
Manusia takut menyelam ke dalam dirinya sendiri. Karena di sana, ia tidak hanya akan menemukan cahaya, tetapi juga bayang-bayang. Ia akan berjumpa dengan keraguan, luka, ego, dan segala hal yang selama ini ia sembunyikan di balik ritual dan simbol. Maka lebih mudah baginya untuk percaya pada sesuatu yang jauh, daripada menghadapi dirinya yang dekat.
Padahal jalan makrifat bukanlah sekadar mempercayai, melainkan mengenali. Bukan sekadar mengucap, melainkan menyaksikan. Dan penyaksian itu tidak terjadi di luar sana, tetapi di dalam kesadaran yang paling hening.
Ketika seseorang mulai bertanya, “Siapa aku sebenarnya?” itulah awal perjalanan. Bukan sebagai bentuk keraguan terhadap Tuhan, melainkan sebagai pintu menuju pengenalan yang lebih dalam. Sebab mengenal diri bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan untuk mengenal Yang Maha Mengadakan diri.
Apa yang selama ini diyakini seringkali hanyalah bayangan dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Kita memeluk konsep, bukan hakikat. Kita menjaga bentuk, tapi lupa rasa. Kita percaya, tapi belum tentu mengenal.
Menggali diri bukan berarti meninggalkan keyakinan, melainkan memurnikannya. Mengkaji diri bukan berarti meragukan Tuhan, melainkan menyingkap tabir antara hamba dan Tuhannya. Karena dalam keheningan terdalam, ketika segala identitas runtuh, segala nama lenyap, dan segala bentuk melebur di situlah kemungkinan perjumpaan sejati itu terjadi.
Maka pertanyaannya bukan lagi “Apa yang aku yakini?”, tetapi “Siapa yang meyakini dalam diriku ini?”
Dan ketika pertanyaan itu dijalani dengan jujur, perlahan manusia akan menyadari: yang ia cari selama ini bukanlah sesuatu yang jauh. Bukan pula sesuatu yang harus dibuktikan dengan kata-kata. Melainkan sesuatu yang telah hadir, sejak sebelum ia belajar untuk percaya. Sesuatu yang lebih dekat dari napasnya sendiri. (Bagas)***

