
PILARPOS.INFO | Surabaya, 26 April 2026— Di antara desir angin dan teduhnya pepohonan, waktu seakan berhenti sejenak bukan karena ia lelah berjalan, tetapi karena ia memberi kesempatan bagi hati-hati yang lama terpisah untuk kembali saling menemukan dalam rencana-Nya yang penuh rahasia.
Di Kebun Bibit Surabaya, temu kangen alumni SMA Tri Tunggal 3 Surabaya angkatan 1987 bukan sekadar temu kangen. Ia adalah peristiwa batin sebuah ruang di mana manusia belajar kembali menjadi manusia: saling menyapa dengan tulus, saling memandang tanpa prasangka, dan saling menerima tanpa syarat.
Mereka datang bukan hanya membawa nama dan usia, tetapi membawa perjalanan hidup luka yang pernah disembuhkan, doa yang pernah dipanjatkan dalam diam, serta cinta yang pernah tumbuh, gugur, lalu kembali menjadi kenangan yang dimuliakan oleh keikhlasan.

Mengusung tajuk, “Jika Aku Bisa, Ku Akan Kembali, Ku Akan Merubah Takdir Cinta yang Kupilih”, pertemuan ini perlahan mengajarkan satu hal yang lebih dalam: bahwa manusia boleh berharap, namun takdir tetap milik Tuhan. Dan dalam setiap takdir yang terjadi, selalu ada kasih sayang-Nya yang tersembunyi, menunggu untuk dipahami dengan hati yang sabar.
Sekitar 30 alumni hadir dari berbagai penjuru Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Nganjuk, hingga Lumajang. Mereka datang dengan langkah yang mungkin tak lagi secepat dulu, namun dengan hati yang jauh lebih luas. Hati yang telah belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang mensyukuri apa yang masih tersisa.
Di bawah langit yang sama seperti puluhan tahun lalu, mereka saling menatap dan dalam tatapan itu tersimpan ribuan cerita. Ada tawa yang kembali menemukan suaranya. Ada diam yang justru lebih fasih berbicara. Ada genggaman tangan yang sederhana, namun terasa seperti menguatkan jiwa yang pernah rapuh.
Percakapan mengalir seperti doa yang tak putus—hangat, jujur, dan penuh makna. Seolah tak ada jarak waktu yang benar-benar memisahkan. Karena sejatinya, apa yang dibangun dengan ketulusan akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
Dalam sambutannya, Eddy Siswanto ketua perwakilan Alumni SMA Tri Tunggal 3 Surabaya menyampaikan rasa syukur yang begitu dalam, sederhana namun menggetarkan. Ia mengingatkan bahwa kehadiran hari itu bukan sekadar kebetulan, melainkan undangan dari Tuhan untuk kembali merajut silaturahmi.
“Dalam kondisi apa pun, silaturahmi harus kita hadiri. Ketika kita masih diberi sehat wal’afiat, itulah rezeki yang utama,” tuturnya lembut.
Kalimat itu bukan hanya nasihat, tetapi pengingat bahwa hidup yang sering kita anggap biasa, sesungguhnya adalah karunia yang luar biasa. Bahwa bisa berkumpul, tertawa, dan saling mendoakan adalah nikmat yang tak ternilai harganya.
Tidak ada kemewahan dalam acara itu. Tidak ada panggung megah atau susunan acara yang kaku. Namun justru di situlah letak keindahan yang sejati ketika hati-hati yang hadir tidak berpura-pura, ketika kebersamaan lahir dari keikhlasan, bukan dari keharusan.
Di antara mereka, mungkin ada cinta lama yang kembali bergetar pelan. Namun kali ini, cinta itu tidak lagi menuntut untuk dimiliki. Ia telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih suci sebuah doa dalam diam, sebuah rasa yang diserahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Mengatur.
Karena mereka kini mengerti, bahwa tidak semua yang kita cintai harus kita genggam. Terkadang, mencintai berarti merelakan dan dalam kerelaan itu, justru ada kedamaian yang lebih dalam.
Hari beranjak siang. Matahari perlahan meninggi, seolah mengingatkan bahwa setiap pertemuan pasti memiliki perpisahan. Namun kali ini, perpisahan itu tidak lagi terasa sebagai kehilangan.
Mereka pulang dengan hati yang lebih utuh.
Dengan jiwa yang lebih lapang. Dengan keyakinan yang lebih kuat bahwa setiap langkah hidup betapapun berliku telah ditulis dengan penuh kasih oleh Tuhan.
Karena pada akhirnya, manusia tidak ditakdirkan untuk mengubah masa lalu.
Namun manusia selalu diberi kesempatan untuk memaknai, mengikhlaskan, dan mensyukurinya.
Dan di antara rindu yang pernah ada, cinta yang pernah tumbuh, serta waktu yang terus berjalan mereka menemukan satu kebenaran yang sederhana namun abadi:
Bahwa apa yang dipertemukan oleh Tuhan, tidak pernah sia-sia.
Dan apa yang dipisahkan oleh-Nya, selalu menyimpan hikmah yang tak ternilai. (Bagas)
