
PILARPOS.INFO | Surabaya – Kebakaran yang terjadi di Gedung PPJT RSUD Dr. Soetomo pada Jumat pagi, 15 Mei 2026, menjadi peristiwa serius yang tidak bisa dipandang sekadar sebagai insiden teknis biasa. Kebakaran di fasilitas kesehatan, terlebih di rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Timur, langsung menyentuh inti persoalan keselamatan pasien, kesiapsiagaan bencana, dan ketahanan sistem layanan kesehatan.
Dalam insiden tersebut, satu pasien kritis meninggal dunia setelah melalui proses evakuasi dan penanganan darurat. Sementara itu, sebanyak 27 pasien harus dievakuasi dari sejumlah ruang pelayanan akibat kepulan asap dan kondisi darurat di area gedung pelayanan intensif.
Fakta-fakta yang disampaikan manajemen rumah sakit dalam konferensi pers menunjukkan bahwa situasi di lapangan berlangsung dalam tekanan tinggi. Mayoritas pasien memang berhasil dipindahkan pada menit-menit awal kejadian. Namun dua pasien kritis di ruang ICU tidak dapat segera dievakuasi karena seluruh fungsi vital mereka bergantung pada alat bantu medis seperti ventilator, alat bantu jantung, dan mesin penunjang kehidupan lainnya.
Kondisi inilah yang menjadi titik paling krusial dalam tragedi tersebut.
Asap pekat dilaporkan memenuhi area dari lantai 4 hingga lantai 6 sehingga akses menuju ruang pasien kritis menjadi sangat berisiko. Tim penyelamat akhirnya harus menggunakan perlengkapan khusus untuk mengevakuasi kedua pasien menuju ruang resusitasi di lantai 1. Salah satu pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia setelah penanganan medis dilakukan.
Pihak rumah sakit menegaskan pasien meninggal bukan akibat sesak karena asap, melainkan karena kondisi medis pasien sejak awal memang sangat kritis. Penjelasan itu penting untuk meluruskan informasi medis. Namun di luar penyebab klinis kematian, peristiwa ini tetap membuka pertanyaan besar tentang kesiapan sistem mitigasi bencana di rumah sakit.
Rumah sakit adalah fasilitas yang seharusnya memiliki standar kesiapsiagaan paling tinggi terhadap keadaan darurat internal, termasuk kebakaran. Sebab pasien ICU bukan kelompok yang bisa dievakuasi secara sederhana. Mereka membutuhkan jalur aman, sistem listrik cadangan yang stabil, akses cepat, hingga skenario pemindahan yang sangat terukur.
Ketika asap tebal membuat proses penyelamatan pasien kritis menjadi sulit, publik wajar mempertanyakan apakah sistem proteksi kebakaran di area vital rumah sakit telah dirancang untuk menghadapi skenario terburuk. Pertanyaan itu menjadi relevan karena yang terdampak bukan ruang administrasi, melainkan area pelayanan medis dengan pasien dalam kondisi paling rentan.
Kebakaran ini juga menunjukkan bahwa gangguan pada satu gedung pelayanan dapat langsung memengaruhi sistem layanan kesehatan secara luas. Pelayanan kegawatdaruratan terpaksa dialihkan ke gedung lain sambil menunggu evaluasi kondisi bangunan terdampak. Artinya, stabilitas pelayanan rumah sakit ternyata sangat bergantung pada keberlangsungan fungsi infrastruktur utama.
Di sisi lain, respons cepat tenaga medis, perawat, petugas penyelamat, dan pemadam kebakaran patut diapresiasi. Dalam situasi penuh asap dan risiko tinggi, mereka tetap melakukan evakuasi sambil menjaga pasien kritis tetap terhubung dengan alat penunjang kehidupan. Langkah cepat itu kemungkinan besar mencegah dampak yang lebih besar.
Namun apresiasi terhadap kerja lapangan tidak boleh menghentikan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan rumah sakit. Insiden ini semestinya menjadi momentum audit total terhadap standar mitigasi kebakaran, jalur evakuasi ICU, sistem ventilasi asap, cadangan listrik darurat, hingga kesiapan evakuasi pasien berbasis ventilator di seluruh rumah sakit rujukan.
Sebab tragedi di fasilitas kesehatan selalu memiliki dimensi yang berbeda. Ketika rumah sakit mengalami krisis, maka yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan atau alat medis, melainkan nyawa manusia yang sepenuhnya bergantung pada kecepatan dan ketepatan sistem bekerja.
Hingga kini penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan pihak terkait. Publik tentu menunggu hasil investigasi tersebut. Tetapi yang lebih penting dari sekadar mengetahui sumber api adalah memastikan bahwa sistem keselamatan di rumah sakit benar-benar diperkuat agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang. (Bagas)***
