
Sejak kecil di Luwu Raya, saya telah mendengar nama besar dan keteladan Jenderal Muhammad Jusuf. Bahkan saat itu keteladannya telah menggema ke seluruh nusantara. Peristiwa pertemuannya dengan Kahhar Muzakkar, seorang pemimpin pemberontakan DI/TII di bibir Pantai Bone Pute, Kecamatan Larompong Kabupaten Luwu pada 21 Oktober 1961, yang notabene adalah sahabat seperjuangnya sendiri dalam membela, memperjuangkan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, sungguh menarik perhatian saya. Keseruannya karena dituturkan langsung oleh yang menyaksikan sendiri peristiwa itu. Penutur tersebut adalah salah seorang anggota Prajurit TNI, Alm. Kapten (Purn.), Jafar. Camat Wotu pada eranya, di Kabupaten Luwu, yang kini Kabupaten itu berubah nama menjadi Kabupaten Luwu Timur.
Wujud keteladan Jenderal M. Jusuf pernah saya saksikan sendiri secara langsung ketika Beliau sebagai Ketua Umum Yayasan Al Markaz lslami, memantau langsung proses pembangunan Masjid Al Markaz Al Islami disekitaran awal 1994. Saat itu saya sebagai staf relawan Yayasan Al Markaz Al Islami ikut juga memantau proses pembangunan masjid tersebut dan berada tepat di kursi belakang Beliau. Makanan ringan yang ada di depannya enggan disantap sendiri. Secara spontan beliau memindahkan ke kursi belakang agar kami juga ikut mencicipinya. Sungguh suatu cerminan kepedulian dan empati Beliau kepada sesama manusia.
Keteladanan Pribadi Jenderal M. Jusuf sangat bersahaja. Sederhana, hidup apa adanya meski menjabat tinggi. Rumah dan gaya hidupnya tetap sederhana. Dekat dengan Prajurit. Tidak berjarak dengan anak buah, dicintai dan dihormati prajurit. Berintegritas, anti-korupsi dan konsisten menolak gratifikasi. Dalam hal soal kebangsaan menolak sektarianisme dan mengutamakan persatuan Indonesia di atas segalanya.
Kepemimpinan nasional Indonesia sangat beruntung telah melahirkan tokoh yang memberi warna tersendiri dalam perjalanan bangsa. Salah satu diantaranya adalah Jenderal Muhammad Jusuf, Putra Bone, yang dikenal dengan julukan Panglima Para Prajurit. Beliau bukan hanya seorang jenderal yang piawai dalam strategi militer, tetapi juga pemimpin dengan integritas, kesederhanaan, dan kecintaan yang mendalam kepada rakyat. Teladannya relevan hingga kini, terutama di tengah krisis keteladanan yang kerap melanda kepemimpinan nasional. Alm. Jenderal M. Jusuf lahir pada 23 Juni 1928 di Kajuara, Bone dan wafat pada 8 September 2004 di Makassar pada usia 76 Tahun. Dibentuk oleh nilai-nilai budaya Bugis-Makassar: sipakatau (memanusiakan), sipakainge (mengingatkan), dan sipakalebbi (menghargai). Sejak remaja terlibat dalam perjuangan kemerdekaan melawan Belanda.
Dalam Kepemimpinan Militer (Pejuang Revolusi Fisik), Beliau terjun langsung memimpin pasukan rakyat di Sulawesi Selatan. Ketika Beliau sebagai Panglima Pangdam Hasanuddin dalam menghadapi pemberontakan DI/TII, tidak hanya dengan pendekatan militeristik semata, tetapi juga persuasif. Saat menjabat sebagai Panglima ABRI (1978–1983), Beliau membela kepentingan prajurit dan rakyat di tengah dinamika politik Orde Baru. Dikenal merakyat, tidur di barak, makan bersama prajurit. Dan tegas mengingatkan bahwa tentara tidak boleh menyakiti rakyat.
Jejak Pengabdian Jenderal M. Jusuf di Pemerintahan adalah sebagai Menteri Perindustrian (1964–1966; 1971–1978). Menertibkan monopoli dan praktik mafia ekonomi. Mengedepankan kemandirian industri nasional. Menolak keras korupsi, meski membuatnya berseberangan dengan elit bisnis-politik. Menteri Pertahanan Keamanan. Dan Menjadi penyeimbang antara militer dan sipil. Beliau menegaskan bahwa posisi ABRI (TNI saat ini) adalah penjaga bangsa, bukan alat politik.
Setumpuk nilai kepemimpinan Jenderal M. Jusuf telah menjadi warisan anak bangsa, kini dan esok. Dari jejak kehidupannya, ada sejumlah nilai yang dapat diambil sebagai warisan. Antara lain; Kekuasaan adalah amanah, bukan tujuan. Tentara adalah pelindung rakyat. Dan, Kesederhanaan adalah kekuatan moral. Serta persatuan bangsa lebih utama dari kepentingan pribadi. Jenderal M. Jusuf adalah figur pemimpin yang meninggalkan teladan abadi, seorang jenderal yang sederhana, dekat dengan rakyat, anti-korupsi, dan setia pada bangsa. Dalam konteks kepemimpinan masa kini, keteladanan beliau mengingatkan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang hanya mengejar kekuasaan, melainkan yang menyatukan, melindungi, dan mengabdi dengan tulus untuk rakyat. Warisan nilai Beliau adalah sumber inspirasi bagi generasi muda, prajurit, dan pemimpin di segala bidang, bahwa pengabdian yang tulus akan selalu hidup dalam ingatan bangsa. Doa kami untuk Beliau, semoga mendapat tempat yang istimewa disisi Allah SWT. Alfatiha, Wassalam.

