
BAGIAN PERTAMA
Ketika rabu pagi, 13 Agustus 2025 beredar kabar jika Dr.H. Aswar Hasan, M.Si baru usai dioperasi karena terjadi pembekuan darah dikepalanya dan belum sadar, maka saya segera mendoakan kesembuhannya. Juga meminta segera seluruh Civitas Akademika Universitas Andi Djemma Palopo, salah satu wadah perjuangan Kak Aswar mengabdi untuk mendoakan kesembuhannya. Namun karena sudah lebih lima tahun terserang stroke, maka sejujurnya saya sangat was-was, sangat kuatir apa yang akan terjadi kemudian. Sebelumnya, kami biasa kontak-kontakan, termasuk menanyakan perkembangan penyakit yang dideritanya. Dipikiran saya bercampur aduk, antara harapan untuk segera sembuh dengan kecemasan, mengingat operasi yang baru saja dilalui oleh seseorang yang sudah tahunan kena stroke. Beberapa menit usai menghembuskan nafasnya yang terakhir pada rabu malam, beredarlah berita diberbagai di Group Whatshap tentang kepergiannya menghadap Ilahi Rabbi. Pak Aswar Lahir pada tanggal 17 Agustus 1963. Genap berumur 62 tahun hari ini, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, 17 Agustus 2025.
Saya mengamati sejak awal 2019, sangat terlihat jelas jika Berat Badan Ustaz Aswar Hasan mulai menurun. Terbetik dibenak saya jika terdapat jenis penyakit yang bersarang dalam tubuhnya mulai berkembang. Selain banyak mencermati berbagai buah pikiran dan sikapnya yang religius, rendah hati, cerdas dan sarat dengan ilmu pengetahuan, sederhana, murah senyum, dan istiqamah, saya acapkali juga memperhatikan perkembangan fisiknya. Maklumlah, saya yuniornya, berasal dari daerah yang sama, Luwu Raya, dan sama-sama alumni SMA 1 Palopo dan Fisip Unhas. Selain itu, pernah sekamar, walaupun saya lebih yunior sekitar dua tahun setengah. Secara emosional saya sangat dekat. Apalagi banyak kenangan yang kami lewati bersama. Terkadang saya panggil kakak, pak dan terkadang saya panggil ustaz. Begitu juga dengan Ustaz Dr. Ir. H. Abdul Aziz Kahar Musakkar, sebagai salah satu sahabat karib seperjuangannya, terkadang juga saya panggil kakak, pak atau ustaz.
Pada jumat menjelang jumatan, 31 Januari 2020, tanpa direncanakan dan disengaja, sehingga mengagetkan, saya bertemu Kak Aswar dihalaman masjid dekat Kantor Pusat saya di Jalan Ponegoro Jakarta, Kantor Program KOMPAK (Governance for Growth). Program ini merupakan salah satu program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Australia yang bertujuan untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam mencapai target pengurangan kemiskinan dan mengatasi ketimpangan. Usai berwudhu untuk persiapan jumatan, saya benar-benar kaget dan terkejut melihat Kak Aswar dipapah oleh salah seorang stafnya menuju pintu masuk masjid. Dihalaman luar masjid, saya melihat istrinya, mengawasi dari jarak jauh. Saya langsung dekati, dan menyapa kemudian bertanya mengapa dipapah. Beliau menjawab, saya kena stroke. Ternyata, sudah sekitar enam bulan kena stroke berat.
Ketika akan diterima sebagai Asisten Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fisip Unhas diawal Tahun 1990an, Kak Aswar diminta tinggal sementara dirumah Prof. Dr. H. Anwar Arifin, Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik, di Kompleks Dosen Unhas Jalan Sunu F.16. Sekitar tiga bulan di rumah itu. Karena saya sudah duluan diminta tinggal dirumah tersebut, maka saya langsung sekamar dengannya bersama Dinda Mawardy Ramli, Ikram Lamahoni dan Alm. Mastam Ladeng. Saat itulah kami mulai sangat akrab, berdiskusi siang malam dengan berbagai topik. Mulai dari topik Keislaman, Keindonesiaan, Gerakan Dakwah Islam, Perkembangan Ilmu Komunikasi dan Politik, Pers, Kepemudaan, dan berbagai issu yang lagi hangat dibicarakan. Saat itu pulalah saya mulai memahami secara dekat karakter Kak Aswar yang sederhana, tawaddu, santun, sarat dengan ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama, kutu buku, rendah hati, dan murah senyum. Saat itu juga saya mulai kenal dia sebagai kader PII (Pemuda Islam Indonesia) dan seorang aktivis pergerakan Islam yang konsisten dan seorang muballig muda. Kami bersama-sama membantu Prof Anwar Arifin mengembangkan suatu lembaga berbentuk Yayasan, yang diberi nama Yayasan Indonesiaku sebagai Pusat Pengkajian dan Pendidikan Pers Pancasila, disingkat P5. Saya, Kak Aswar dan beberapa senior lainnya didaulat oleh Prof Anwar sebagai Asisten Dewan Pakar, dimana Prof Muis dan Prof Anwar sebagai Dewan Pakarnya.
Sebagai ahli agama dan pemuda pejuang Islam, salah satu gagasan cerdas Kak Aswar dirumah Prof Anwar adalah gagasan pendirian mushalla kecil dilantai dasar. Di Mushalla itulah kemudian sebagai salah satu tempat pavorit kami untuk berdiskusi, terutama diwaktu usai shalat subuh. Dalam setiap diskusi, nampak jelas betapa santun dan cerdasnya Alm dalam menanggapi setiap issu yang kami perdebatkan. Kak Aswar sebagai Kader PII dan kami sebagai Alumni HMI yang memiliki nilai dan prinsip perjuangan yang hampir sama, tentu menjadi landasan pemantik yang menggairahkan dalam menanggapi berbagai isu yang didiskusikan.
PII adalah organisasi kepelajaran dan kepemudaan Islam yang berdiri pada 4 Mei 1947 di Yogyakarta. Dibentuk sebagai wadah perjuangan pelajar Indonesia yang memiliki visi Islam, dengan tujuan membentuk pelajar yang berkepribadian Islam, cakap, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Terdapat empat karakter PII, yaitu: organisasi independen (tidak berafiliasi langsung dengan partai politik atau organisasi Islam manapun); berbasis pelajar (fokus kepada pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa muda); kaderisasi kuat (mengadakan berbagai bentuk pelatihan dan perkaderan seperti Latihan Dasar Kepemimpinan, Training of Trainer, dan lain-lain); dan gerakan moral dan intelektual (berupaya menciptakan generasi muda yang kritis, berakhlak, dan berilmu). Empat Karakter PII tersebut sangat melekat pada diri Pak Aswar dan mewarnai setiap langkahnya. Sayangnya organisasi ini dibatasi secara administratif dan dilarang aktivitasnya oleh Pemerintah di sekolah-sekolah negeri. Namun demikian, status PII sebagai organisasi tetap ada dan tetap beroperasi meskipun dalam tekanan.

