
PILARPOS.INFO | SURABAYA – Di tengah dinamika kehidupan politik nasional yang terus berkembang, semangat untuk mengembalikan politik kepada nilai-nilai luhur kebangsaan kembali digaungkan dari Surabaya, kota yang tercatat dalam sejarah sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan patriotisme bangsa Indonesia.
Dari kota yang menjadi saksi heroisme perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu, Partai Amanat Demokrasi Indonesia (PADI) menegaskan komitmennya untuk membangun gerakan politik yang berkarakter, berlandaskan Pancasila, setia kepada Undang-Undang Dasar 1945, serta berorientasi pada kepentingan rakyat dan masa depan bangsa.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Silaturahim Presiden Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PADI bersama Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Jawa Timur dan Ketua DPD Kabupaten/Kota se-Jawa Timur yang berlangsung di Hotel Hersya Front One Surabaya, Minggu (31/5/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi partai untuk memperkuat konsolidasi organisasi, mempererat soliditas kader, sekaligus menyatukan langkah perjuangan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan di era modern.

Hadir dalam kegiatan tersebut Presiden PADI, Mayjen TNI AD (Purn) Burlian Syafei, jajaran pimpinan nasional partai, pengurus DPP Jawa Timur, para Ketua DPD Kabupaten/Kota se-Jawa Timur, serta perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur.
Kehadiran para pengurus dari berbagai daerah menunjukkan tekad kuat untuk membangun organisasi yang solid dan mampu menjadi bagian dari upaya memperkuat demokrasi Indonesia.
Suasana forum berlangsung hangat namun penuh semangat kebangsaan. Bagi PADI, pertemuan ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang refleksi dan konsolidasi untuk meneguhkan kembali tujuan besar perjuangan politik yang berpijak pada cita-cita kemerdekaan dan amanat para pendiri bangsa.
Dalam pidato kebangsaannya, Burlian Syafei menegaskan bahwa Partai Amanat Demokrasi Indonesia lahir dengan kesadaran bahwa bangsa Indonesia membutuhkan politik yang tidak hanya berbicara tentang perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang pembangunan manusia, penguatan karakter, dan pembentukan kepemimpinan yang berintegritas.
Menurutnya, demokrasi yang sehat tidak cukup hanya ditandai oleh terselenggaranya pemilihan umum atau pergantian kepemimpinan secara konstitusional.
Demokrasi harus mampu melahirkan pemimpin yang memiliki moralitas, wawasan kebangsaan, serta keberpihakan kepada rakyat. Oleh karena itu, pembangunan karakter menjadi fondasi penting dalam perjalanan bangsa menuju kemajuan.
“Indonesia membutuhkan pemimpin yang memahami sejarah bangsanya, mencintai rakyatnya, dan memiliki keberanian menjaga kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Politik harus menjadi sarana pengabdian, bukan sekadar alat untuk meraih kekuasaan,” tegas Burlian.
Ia menjelaskan bahwa semangat perjuangan PADI berangkat dari nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Kemerdekaan Indonesia, menurutnya, merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa sekaligus amanah sejarah yang harus dijaga oleh seluruh komponen bangsa melalui kerja nyata, persatuan, dan semangat gotong royong.
Dalam pandangannya, berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa saat ini, seperti korupsi, penyalahgunaan kewenangan, rendahnya disiplin sosial, hingga melemahnya rasa persatuan, tidak hanya disebabkan oleh persoalan sistem, tetapi juga oleh menurunnya kualitas karakter dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Karena itu, ia menekankan bahwa pembangunan bangsa harus berjalan secara seimbang antara pembangunan fisik dan pembangunan manusia.
Infrastruktur yang kuat akan memberikan manfaat maksimal apabila didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki integritas, tanggung jawab, serta kesadaran kebangsaan yang tinggi.
“Karakter adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Negara yang besar dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki kejujuran, disiplin, semangat pengabdian, dan kecintaan terhadap tanah airnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Burlian juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali semangat Trisakti sebagai arah pembangunan nasional, yaitu berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Menurutnya, konsep tersebut tetap relevan dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks dan kompetitif.
Ia menilai bahwa Indonesia memiliki seluruh modal untuk menjadi bangsa yang maju dan disegani dunia. Kekayaan sumber daya alam, keberagaman budaya, serta jumlah penduduk yang besar merupakan kekuatan strategis yang harus dikelola secara bijaksana untuk kepentingan rakyat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas bangsa. Kebudayaan harus tetap menjadi ruh pembangunan nasional karena budaya merupakan cerminan karakter dan jati diri Indonesia.
“Bangsa yang menghormati sejarahnya akan memahami arah masa depannya. Bangsa yang menjaga budayanya akan mampu mempertahankan identitasnya di tengah arus perubahan dunia,” katanya.
Sebagai partai yang mengusung visi peduli, berkarakter, dan adaptif, PADI berkomitmen memperkuat pendidikan politik di tengah masyarakat.
Melalui kaderisasi yang berkelanjutan, partai ingin melahirkan generasi pemimpin yang memiliki kemampuan, integritas, serta kesadaran untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.
Sementara itu, Ketua DPP PADI Provinsi Jawa Timur, Subani Suryo Atmojo, menyampaikan bahwa Jawa Timur siap menjadi salah satu pusat penguatan organisasi sekaligus motor penggerak perjuangan partai di tingkat nasional.
Menurutnya, semangat perjuangan yang diwariskan para pahlawan bangsa menjadi inspirasi bagi seluruh kader untuk terus mengabdi kepada masyarakat dan negara.
“Jawa Timur memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa. Dari tanah ini lahir banyak tokoh besar yang memberikan kontribusi bagi Indonesia. Karena itu, kami siap memperkuat konsolidasi, memperluas kaderisasi, dan menghadirkan politik yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa PADI Jawa Timur akan terus memperkuat struktur organisasi hingga tingkat daerah, meningkatkan kualitas sumber daya kader, serta memperluas program pendidikan politik sebagai bagian dari upaya membangun demokrasi yang sehat dan bermartabat.
Kegiatan silaturahim tersebut akhirnya melahirkan komitmen bersama seluruh pengurus dan kader untuk menjaga soliditas organisasi, memperkuat semangat persatuan, serta mengawal perjuangan partai dalam membangun politik yang berorientasi pada kepentingan rakyat dan pembangunan karakter bangsa.
Dari Surabaya, kota yang menjadi simbol keberanian dan patriotisme nasional, PADI kembali mengingatkan bahwa kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas karakter bangsa yang menjadi pondasi utama kehidupan bernegara.
Melalui konsolidasi yang dilakukan di Jawa Timur, partai tersebut menegaskan tekad untuk terus berkontribusi dalam memperkuat demokrasi, menjaga persatuan nasional, serta mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkepribadian, dan sejahtera dalam bingkai kokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari Kota Pahlawan, semangat kebangsaan kembali dikobarkan. Dari Jawa Timur, pesan persatuan kembali disuarakan. Dan dari gerakan politik yang berlandaskan karakter, harapan akan Indonesia yang lebih kuat, lebih bermartabat, dan lebih berkeadilan terus dinyalakan untuk generasi masa depan. (Bagas)***
