
PILARPOS.INFO | SURABAYA – Dalam pandangan makrifat, silaturahmi bukan sekadar pertemuan jasad, bukan pula hanya saling berjabat tangan atau bertukar kabar. Silaturahmi adalah perjumpaan ruh dengan ruh, hati dengan hati, yang dipertemukan oleh kehendak Allah SWT dalam jalinan kasih sayang yang suci. Di dalamnya terdapat rahasia keberkahan, keluasan rezeki, ketenangan jiwa, serta pancaran cahaya Ilahi yang menghubungkan manusia dengan sesamanya dan dengan Tuhannya.
Nilai luhur itulah yang terasa begitu kuat dalam Silaturahmi Akbar Keluarga Besar Pohjentrek Pasuruan yang dirangkai dengan Haul ke-75 Almarhum Mbah Umarsidik di Omah Budaya Ki Sunaryo Umarsidik, Surabaya. Kehadiran keluarga besar dari berbagai penjuru bukan hanya untuk mengenang sejarah, melainkan untuk merawat amanah ruhani yang diwariskan para leluhur: menjaga persaudaraan karena Allah dan menyatukan hati dalam cinta kasih yang diridhai-Nya.
Bagi para arifin dan pencari jalan makrifat, silaturahmi merupakan salah satu bentuk ibadah batin yang memiliki kedudukan mulia. Ketika seseorang datang menemui saudaranya dengan niat mempererat kasih sayang, menghapus prasangka, dan menyambung hubungan yang mungkin renggang, maka sesungguhnya ia sedang melangkah menuju ridha Allah SWT. Sebab Allah mencintai hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan manusia yang mampu memuliakan sesamanya.
Haul ke-75 Mbah Umarsidik menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Namun nilai kebaikan, akhlak mulia, dan doa yang ditanamkan seseorang akan terus hidup bahkan setelah jasad kembali ke pangkuan Ilahi. Mbah Umarsidik telah meninggalkan jejak keteladanan yang tidak diukur oleh kemegahan dunia, melainkan oleh keluasan manfaat dan kasih sayang yang diwariskannya kepada generasi penerus.
Dalam suasana penuh kekhusyukan, doa-doa dipanjatkan dengan harapan semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan kepada almarhum serta menjadikan seluruh keluarga sebagai hamba-hamba yang istiqamah dalam menjaga ukhuwah. Setiap lantunan doa menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan generasi hari ini dengan para leluhur yang telah mendahului, karena dalam hakikatnya cinta yang lahir karena Allah tidak akan pernah terputus oleh ruang dan waktu.
Para sesepuh keluarga mengingatkan bahwa kekuatan sebuah keluarga bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada eratnya persaudaraan. Sebab ketika hati-hati dipersatukan oleh keikhlasan, maka pertolongan Allah akan turun. Sebaliknya, ketika persaudaraan terpecah oleh ego dan kepentingan dunia, maka hilanglah keberkahan yang menjadi sumber kekuatan kehidupan.
Dalam perspektif makrifat, setiap pertemuan memiliki rahasia yang telah ditetapkan Allah sejak azali. Tidak ada perjumpaan yang kebetulan. Setiap pelukan persaudaraan, setiap senyum yang tulus, setiap doa yang dipanjatkan untuk sesama, adalah bagian dari kasih sayang Allah yang mengalir melalui hati manusia. Karena itu, menjaga silaturahmi sesungguhnya adalah menjaga cahaya yang Allah titipkan dalam kehidupan.
Di tengah zaman yang semakin individualistik, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita membutuhkan saudara untuk saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan menuju jalan kebaikan. Sebab hakikat persaudaraan adalah saling menjadi sebab turunnya rahmat Allah di muka bumi.
Silaturahmi Akbar dan Haul ke-75 Mbah Umarsidik akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara keluarga. Ia menjelma menjadi majelis ruhani yang menghadirkan kesadaran bahwa setiap manusia berasal dari satu asal-usul yang sama dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Di antara perjalanan itu, yang akan dikenang bukanlah apa yang dimiliki, tetapi seberapa besar cinta, kebaikan, dan manfaat yang telah diberikan kepada sesama.
Maka selama tali silaturahmi tetap dijaga, selama doa terus dipanjatkan untuk para leluhur, dan selama nilai-nilai kasih sayang tetap diwariskan kepada generasi berikutnya, cahaya keberkahan akan terus menyala dalam kehidupan keluarga besar ini.
“Orang yang mengenal Tuhannya akan memuliakan sesamanya. Orang yang mengenal hakikat hidup akan menjaga silaturahmi. Sebab di dalam silaturahmi terdapat rahasia cinta Allah yang menghubungkan hati-hati menuju cahaya-Nya. (Bagas)***
