
PILARPOS.INFO | Surabaya — Setiap kali 1 Mei tiba, kita tidak sekadar memperingati Hari Buruh Internasional. Kita sedang diuji sebagai bangsa: apakah kita masih setia pada amanat keadilan sosial, atau justru perlahan mengkhianatinya? Di balik geliat pembangunan, ada satu pertanyaan yang tak boleh dihindari apakah buruh sudah benar-benar dimanusiakan?
Buruh adalah fondasi republik ini. Dari pelabuhan hingga pabrik, dari sawah hingga gedung pencakar langit, ada keringat yang jatuh tanpa banyak sorotan, namun menentukan arah bangsa. Mereka bukan sekadar roda penggerak ekonomi mereka adalah denyut nadi Indonesia. Tanpa mereka, pembangunan hanyalah ilusi.
Namun kenyataan sering berbicara sebaliknya. Masih ada ketimpangan, masih ada ketidakpastian kerja, masih ada suara buruh yang tenggelam di tengah kepentingan yang lebih besar. Inilah titik kritis nasionalisme kita diuji apakah kita berani berdiri di pihak yang benar, atau memilih diam demi kenyamanan?
Heru Satriyo, Ketua MAKI Jawa Timur, menegaskan bahwa perjuangan buruh adalah fondasi keadilan sosial. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan peringatan keras: jika buruh dilemahkan, maka bangsa ini sedang melemahkan dirinya sendiri. Tidak ada kemerdekaan yang utuh jika masih ada rakyat yang tidak merdeka secara ekonomi dan sosial.
Komitmen untuk berdiri bersama buruh adalah bentuk keberanian moral. Mengawal kebijakan bukan hanya soal regulasi, tetapi tentang menjaga nurani bangsa agar tetap hidup. Negara tidak boleh hanya hadir saat seremonial, tetapi harus nyata dalam keberpihakan melindungi, menyejahterakan, dan menghormati setiap pekerja.
Nasionalisme sejati tidak diukur dari seberapa lantang kita berbicara tentang cinta tanah air, tetapi dari seberapa dalam kita memperjuangkan keadilan bagi sesama anak bangsa. Buruh yang kuat adalah simbol Indonesia yang berdaulat. Buruh yang sejahtera adalah cerminan negara yang beradab.
“Buruh Kuat, Rakyat Bermartabat. Buruh Bersatu, Keadilan Terwujud.”
Ini bukan sekadar semboyan, tetapi kompas moral. Ia mengingatkan bahwa persatuan buruh bukan ancaman, melainkan kekuatan yang menjaga keseimbangan dan keadilan.
Hari Buruh harus menjadi momentum kebangkitan kesadaran nasional. Bahwa membangun bangsa bukan hanya soal infrastruktur dan investasi, tetapi tentang memastikan setiap manusia yang bekerja untuk negeri ini hidup dengan layak dan bermartabat.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya, tetapi bangsa yang tidak pernah mengabaikan keringat rakyatnya. (Bagas)
