
PILARPOS.INFO | SIDOARJO — Di balik gema takbir yang menggetarkan langit Idul Adha 1447 Hijriah, tersimpan pesan spiritual yang begitu dalam tentang makna pengorbanan, keikhlasan, dan cinta kasih terhadap sesama manusia. Bagi MAKI Jawa Timur, Hari Raya Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban ataupun perayaan keagamaan tahunan, melainkan momentum suci untuk membangkitkan kesadaran moral dan kemanusiaan di tengah kehidupan masyarakat yang terus menghadapi berbagai tantangan sosial.
Ketua Koordinator Wilayah Provinsi Jawa Timur MAKI, Heru Satriyo, menegaskan bahwa hakikat kurban sejatinya adalah perjalanan hati manusia menuju ketulusan dan kepedulian. Idul Adha mengajarkan bahwa manusia tidak hanya dituntut taat kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kasih sayang, keadilan, dan manfaat bagi sesama.
“Selamat Hari Raya Iduladha 1447 H. Semoga semangat berkurban menumbuhkan keikhlasan, mempererat persaudaraan, dan membawa keberkahan bagi kita semua,” ujar Heru Satriyo, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan hanya simbol pengorbanan fisik, tetapi cermin tentang bagaimana manusia diajarkan menaklukkan ego, kesombongan, serta kepentingan pribadi demi menjalankan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dalam makna itulah, Iduladha menjadi pelajaran spiritual tentang pentingnya menghadirkan hati yang bersih, tulus, dan penuh empati.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali dipenuhi individualisme dan persaingan tanpa batas, Heru menilai masyarakat membutuhkan penguatan nilai kebersamaan dan solidaritas sosial agar kehidupan tetap harmonis. Semangat berbagi dalam Iduladha diyakini mampu menjadi perekat sosial yang memperkuat hubungan antarmanusia tanpa memandang latar belakang perbedaan.
“Mari jadikan Iduladha sebagai momentum untuk berbagi, peduli sesama, dan memperkuat nilai kemanusiaan,” lanjutnya.
MAKI Jawa Timur memandang bahwa nilai-nilai luhur Iduladha sangat relevan dengan upaya membangun masyarakat yang jujur, amanah, dan berorientasi pada kepentingan bersama. Keikhlasan dalam berkurban bukan hanya tentang memberi materi, tetapi juga tentang kesediaan mengorbankan kepentingan pribadi demi terciptanya kehidupan sosial yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Bagi Heru Satriyo, kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Karena itu, Iduladha harus menjadi gerakan moral yang hidup dalam tindakan nyata: membantu yang lemah, menguatkan yang rapuh, dan merangkul mereka yang membutuhkan perhatian.
Ia juga berharap nilai-nilai Idul Adha tidak berhenti sebagai simbol tahunan yang hanya dirayakan secara seremonial, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, organisasi, maupun dalam kehidupan bermasyarakat secara luas.
Menurutnya, Jawa Timur yang damai dan kuat tidak hanya dibangun oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan hati masyarakatnya dalam menjaga toleransi, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Melalui momentum suci Idul Adha 1447 H ini, MAKI Jawa Timur berharap semangat pengorbanan dan cinta kasih terus tumbuh menjadi energi moral bagi masyarakat. Sebab hakikat kurban sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang disembelih, melainkan tentang bagaimana manusia mampu menyembelih ego dan menghadirkan kemuliaan akhlak dalam kehidupan.
Karena pada akhirnya, Iduladha adalah tentang memanusiakan manusia, menguatkan persaudaraan, dan menghadirkan rahmat Allah SWT dalam kehidupan sosial yang lebih humanis dan penuh keberkahan. (Bagas)***
