
PILARPOS.INFO|SAMPANG — Di tengah dinamika zaman yang semakin sarat dengan tantangan moral, sosial, dan spiritual, silaturahmi menjadi salah satu jalan mulia untuk menjaga peradaban tetap berpijak pada nilai-nilai ilahiah dan kemanusiaan. Dalam semangat itulah, Komisaris, Pemimpin Redaksi, jajaran pengurus, serta wartawan Pilar Pos melakukan kunjungan silaturahmi ke Ponpes As Shofa Duwe’Pote pada Kamis (7/5/2026).
Kunjungan tersebut tidak hanya bernilai seremonial kelembagaan, melainkan menghadirkan makna yang lebih dalam sebagai ruang perjumpaan ruhani antara insan pers dan dunia pesantren.
Di tempat yang sarat dengan nilai adab, ilmu, dan spiritualitas itu, terjalin dialog penuh hikmah mengenai pentingnya membangun kemitraan yang berlandaskan keikhlasan, ukhuwah, dan pengabdian terhadap umat.
Rombongan Pilar Pos disambut langsung dengan penuh kehangatan oleh Pengasuh Ponpes As Shofa Duwe’Pote, R.KH. Bahrul Ulum.
Sambutan yang teduh dan bersahaja tersebut memancarkan wajah pesantren sebagai benteng moral yang senantiasa menjaga tradisi keilmuan, kemanusiaan, serta nilai luhur Islam rahmatan lil ‘alamin.
Dalam penyampaiannya, R.KH. Bahrul Ulum menegaskan bahwa silaturahmi merupakan kekuatan spiritual yang memiliki dampak besar dalam membangun persatuan dan keberkahan hidup.
Menurut beliau, hubungan yang dibangun atas dasar keikhlasan dan niat ibadah akan melahirkan energi kebaikan yang mampu memperkuat persaudaraan serta menghadirkan ketenteraman di tengah kehidupan masyarakat.
“Silaturahmi bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan perjumpaan hati yang menghadirkan rahmat Allah SWT. Ketika ulama dan insan media berjalan bersama dalam niat yang baik, maka akan lahir dakwah yang menyejukkan, informasi yang mencerdaskan, dan perjuangan yang memberi manfaat bagi umat,” tutur beliau penuh makna.
Suasana pertemuan berlangsung dalam nuansa religius yang begitu mendalam. Percakapan demi percakapan tidak hanya membahas kemitraan secara kelembagaan, tetapi juga menyentuh persoalan moralitas sosial, tanggung jawab syiar lebih meningkatkan moralitas dan akhlak yang beradab, serta pentingnya menjaga nilai kemanusiaan di tengah arus modernisasi yang sering kali mengikis kepekaan batin manusia.
Dalam perspektif itu, media dipandang bukan semata-mata sebagai alat penyebar informasi, tetapi juga sebagai instrumen peradaban yang memiliki tanggung jawab etis dan spiritual.
Pilar Pos dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menanamkan nilai kebijaksanaan, kedamaian, serta semangat persatuan bangsa.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Pilar Pos, M. Nur Alim, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam atas sambutan hangat dari keluarga besar Ponpes As Shofa Duwe’Pote.
Menurutnya, suasana kekeluargaan dan keteduhan spiritual yang dirasakan selama kunjungan menjadi pengalaman berharga yang menguatkan makna persaudaraan dalam Islam.
“Kami merasakan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, melainkan juga mata air kebijaksanaan dan kemanusiaan. Sambutan penuh kehangatan ini menjadi energi moral bagi kami untuk terus menghadirkan media yang membawa nilai kesejukan, persatuan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Pertemuan tersebut menjadi refleksi bahwa harmoni antara media dan pesantren adalah sebuah kebutuhan peradaban. Ketika kekuatan intelektual, moral, dan spiritual berjalan beriringan, maka akan lahir sinergi besar dalam membangun masyarakat yang beradab, berakhlak, dan memiliki kesadaran kemanusiaan yang tinggi.
Di tengah suasana penuh keakraban itu, para santri, pengurus pesantren, dan rombongan Pilar Pos tampak larut dalam kebersamaan yang sederhana namun penuh makna.
Ada doa yang saling dipanjatkan, ada harapan yang dititipkan, dan ada semangat pengabdian yang tumbuh demi menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Silaturahmi tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya kemitraan yang berkelanjutan antara dunia pesantren dan media, sebuah sinergi yang dibangun bukan atas dasar kepentingan pragmatis, melainkan atas pondasi nilai-nilai keilmuan, dakwah, dan cinta kasih terhadap sesama manusia.
Di penghujung pertemuan, doa bersama dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan. Dalam hening yang syahdu, seluruh yang hadir memohon agar Allah SWT senantiasa menjaga persaudaraan, melimpahkan keberkahan dalam setiap langkah perjuangan, serta menjadikan silaturahmi tersebut sebagai jalan menuju ridha dan kemuliaan hidup.
Sebab sejatinya, peradaban besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan materi dan kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh hati-hati yang dipersatukan dalam iman, ilmu, kasih sayang, dan ketulusan pengabdian kepada Allah SWT. (Red)***
