
PILARPOS.INFO | Surabaya – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah dan kualitas pendidikan di Indonesia.
Di tengah berbagai tantangan zaman, isu pendidikan karakter dan peran keluarga mencuat sebagai fokus utama dalam membentuk generasi masa depan.
Berbagai kalangan menekankan bahwa pembangunan generasi unggul tidak cukup hanya bertumpu pada kecerdasan akademik.
Lebih dari itu, dibutuhkan fondasi karakter yang kuat agar anak mampu menghadapi dinamika kehidupan yang semakin kompleks.
Dalam rangkaian peringatan tahun ini, Juli Poernomo menggelar dialog bersama para pengurus OSIS di Surabaya.
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi terbuka bagi pelajar untuk menyampaikan pandangan sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya peran mereka sebagai generasi penerus bangsa.
Pesan utama yang disampaikan dalam peringatan Hardiknas 2026 adalah ajakan untuk mewujudkan generasi unggul melalui partisipasi semesta.
Seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas, diharapkan berperan aktif dalam proses pendidikan.
Pendidikan dalam keluarga dinilai sebagai fondasi utama pembentukan kepribadian anak.
Sejak usia dini, anak perlu dibekali nilai etika dan moral yang kuat, terutama yang bersumber dari ajaran agama, agar memiliki pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Juli Poernomo serta para pemerhati pendidikan menegaskan bahwa pembentukan karakter bukanlah proses instan.
Karakter terbentuk melalui perjalanan panjang yang melibatkan pendidikan di rumah, di sekolah, serta pengaruh lingkungan sosial yang kerap disebut sebagai “Social Schooling”.
Di era digital, tantangan tersebut semakin kompleks. Lingkungan dunia maya kini menjadi faktor yang sangat memengaruhi perkembangan anak.
Akses informasi tanpa batas serta penggunaan media sosial menghadirkan peluang sekaligus risiko.
Sejumlah pihak menilai perlunya regulasi yang lebih tegas terkait penggunaan media sosial, khususnya bagi anak hingga usia 16 tahun.
Kebijakan ini diharapkan mampu meminimalisasi dampak negatif sekaligus melindungi perkembangan psikologis anak.
Namun demikian, regulasi saja tidak cukup. Orang tua dituntut untuk terlibat aktif melalui monitoring dan pendampingan.
Pendekatan yang tepat bukan sekadar membatasi, melainkan juga membimbing anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Isu lain yang turut menjadi perhatian adalah keberadaan Daycare, khususnya di kota besar seperti Surabaya.
Pengawasan yang ketat dianggap penting guna mencegah potensi kekerasan maupun penyalahgunaan terhadap anak di tempat penitipan.
Sebagai penutup, pendidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek akademik semata, tetapi juga pada pengembangan bakat, minat, serta pembentukan karakter (character building).
Dengan pendekatan yang menyeluruh, generasi masa depan Indonesia diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berintegritas, dan berdaya saing tinggi.***
